Sunday, October 30, 2016
Hakim Minta Warga Bukit Duri Cabut Gugagatan Penggusuran
Semua pasti masih ingat dengan peristiwa penggusuhan Bukit Duri oleh pemprov Jakarta yang dipimpin Ahok itu, bukan? Dari artikel diatas dapat dilihat bahwa hakim meminta warga untuk mencabut gugatan penggusuran, dikarenakan lahan yang dipermasalahkan sudah tidak ada atau telah selesai digusur. Hal ini tentu bertentangan dengan persamaan derajat dan hak yang sama di Indonesia. Padahal, hal ini jelas tertulis di UUD 1945 pasal 27 ayat 1 yang berbunyi, "Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjungnya dengan tidak ada terkecuali,"
Disini jelas sekali terlihat pelapisan sosial antara golongan atas dengan golongan bawah. Dimana golongan bawah tak mendapat persamaan derajat di mata hukum. Sedangkan untuk golongan atas, hukum akan cepat ditindak lanjutinya.
Menurut saya sendiri, warga duri berhak atas gugatannya namun salah juga karena tidak mengindahkan surat peringatan dari pemprov DKI perihal penggusuran Bukit Duri tersebut. Hakim pun tidak bisa seenaknya meminta warga mencabut gugatan itu karena setiap warga negara berhak untuk menuntut atau membela diri di hadapan hukum dengan kesamaan derajat yang sama. Pemprov DKI pun berhak untuk menggusur Bukit Duri namun penggusuran yang dilakukan saat itu jelas melanggar hukum. Karena, gugatan belum selesai di meja pengadilan tetapi sudah langsung digusur saja. Pemerintah tidak bisa sewenang-wenangnya terhadap warga, Saya sepakat dengan program pemerintah DKI untuk penataan wilayah Ibu Kota, tetapi penataan tersebut harus manusiawi dan memenuhi azas keadilan.
Saran saya, gugatan tersebut tidak harus dicabut. Jika pemerintah menginginkan gugatan itu dicabut, adakan lah pembicaraan atau musyawarah dengan warga Bukit Duri itu sendiri. Dibicarakan baik-baik dengan manusiawi dan kekeluargaan. Dan juga rusun peralihan yang diberikan Jakarta itu harusnya gratis tidak sewa karena rumah dan tanah warganya sudah digusur. Pembayaran ganti rugi pun dengan nilai yang sepadan. Serta, petugas hukum jangan seenaknya meminta golongan bawah untuk mencabut gugatan-gugatan yang diajukan bila itu menyangkut dengan gugatan atas. Karena, keadilan dan persamaan derajat harus ditegakkan di negara hukum ini.
Sunday, October 23, 2016
Review Film Jenderal Soedirman
Genre : Drama, Perang
Tanggal Rilis Perdana : 27 Agustus 2015
Studio : Padma Pictures
Sutradara : Viva Westi
Produser : Handi Ilfat, Sekar Ayu Asmara
Penulis Naskah : Tubagus Deddy
Pemain : Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Mathias Muchus, Baim Wong, Nugie, Lukman Sardi, Annisa Hertami, Landung Simatupang, Henky Solaiman
Tanggal Rilis Perdana : 27 Agustus 2015
Studio : Padma Pictures
Sutradara : Viva Westi
Produser : Handi Ilfat, Sekar Ayu Asmara
Penulis Naskah : Tubagus Deddy
Pemain : Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Mathias Muchus, Baim Wong, Nugie, Lukman Sardi, Annisa Hertami, Landung Simatupang, Henky Solaiman
REVIEW
Film Jenderal Soedirman merupakan film yang mengangkat tentang kisah perjalanan hidup atau biografi sang tokoh pahlawan yang pantang menyerah yaitu Jenderal Soedirman. Di dalam film ini diceritakan mengenai perjuangan tokoh melakukan perang gerilya sekaligus mengusirnya dari Indonesia. Hal ini terjadi karena pihak Belanda menyatakan tidak terikat lagi dengan perjanjian renvile sekaligus menghentikan genjatan senjata, dan Yogyakarta yang menjadi ibukota negara pun diserang oleh Belanda dibawah pimpinan Jenderal Simons Spoor.
Presiden Soekarno dan wakilnya Hatta diasingkan ke Bangka. Namun, Jenderal Soedirman bersama panglima perang lainnya melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perang gerilya. Para panglima melakukan gerilya dari hutan ke hutan sepanjang pulau Jawa membuat Belanda kewalahan karena kehabisan logistik dan waktu. Pada saat perang tersebut Jenderal Soedirman sedang sakit paru-paru akut. Penyakitnya terserbut membuat perjuangannya terasa semakin berat.
Belanda menyatakan dengan seenaknya bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Hal itu terdengar oleh Soedirman dan panglima lainnya dari dalam hutan. Mereka pun geram dan Soedirman menyiarkan bahwa Indonesia masih ada, kokoh dengan prajurit prajuritnya yang kuat dan siap melawan siapapun yang menyerang Indonesia.
Dengan segala upaya dan kerjasama antar prajurit TNI yang dipimpin Soedirman, akhirnya Indonesia memenangkan perang tersebut dan Belanda mengaku kalah. Setelah berakhirnya perang tersbut Belanda mengakui kedaulatan bangsa Indonesia seutuhnya dan terbuatlah perjanjian Roem-Royen.
OPINI
Menurut saya film ini sangat bagus untuk masyarakat. Selain untuk mengenang perjuangan para pahlawan namun juga dapat dijadikan pelajaran bahwa Indonesia merdeka dilalui dengan kerja keras para pahlawan jadi masyarakat harus menjaga keutuhan yang sudah ada. Dan juga film ini dapat menumbuhkan rasa nasionalisme pada masyarakat. Di film ini juga diperlihatkan bagaimana sosok Jenderal Soedirman yang sedang sakit tetapi membela Indonesia habis-habisan. Film ini cukup mendidik karakter bangsa. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda harus cinta negara dan menjaga keutuhannya serta jangan melupakan jasa pahlawan pahlawan terdahulu.
Sunday, October 9, 2016
Peristiwa Pelajar di Gresik Menjadi PSK Mucikari

Dalam artikel di atas disebutkan bahwa bisnis prostitusi tidak hanya terjadi di kota-kota besar. Di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, perempuan pelajar menjadi mucikari dan PSK. Pelajar yang seharusnya berkewajiban belajar tetapi memilih jalan sebagai PSK atau mucikari ini sangat memprihatinkan bagi masyarakat. Bagaimana tidak? Hal ini jelas mencoreng nama baik pemuda Indonesia. Yang menunjukaan bahwa moral anak bangsa sudah rusak.
Peristiwa ini dapat terjadi akibat dari gaya hidup yang melampaui batas kemampuan sehingga Si Pelaku mengambil cara cepat untuk dapat memenuhi kebutuhan dan gaya hidupnya itu. Atau dapat juga karena pengaruh lingkungan yang kurang baik. Dan kurangnya perhatian dari Orangtua. Menurut Saya, sudah banyak sekali pelajar atau pemuda yang mengambil cara cepat untuk dapat memiliki uang dengan cara seperti ini, menjadi PSK atau mucikari. Jika para pemuda terus seperti ini, bangsa Indonesia akan hancur. Mengapa? Karena generasi mudalah yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Jika generasi mudanya seperti itu, bagaimana bangsa kita ini dapat maju.
Sosialisasi yang buruk seperti ini harus segera ditangani. Karena jika tidak dapat menyebar dan akan menjadi sebuah kebiasaan yang semakin sulit diatasi. Hal ini perlu penanganan serius dari pihak berwajib untuk ditangani secara hukum agar jera, dan KPAI menangani secara psikologis agar diberi arahan dan penyuluhan. Dan tentunya pengawasan Orangtua terhadap lingkungan para pemuda harus sangat diperhatikan. Terlebih kepada orang-orang terdekat Si Anak agar tidak terjerumus ke pergaulan yang salah. Perkembangan generasi muda harus sangat diperhatikan, karena generasi muda sendiri adalah tiang negara.
Source;
Saturday, October 1, 2016
Subscribe to:
Comments (Atom)






